Dalam kalender Islam, terdapat waktu-waktu tertentu yang memiliki keistimewaan dan keutamaan dibandingkan waktu lainnya. Salah satu periode yang sangat agung adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Bulan Zulhijah sendiri merupakan bulan kedua belas dan terakhir dalam penanggalan Hijriah, yang identik dengan pelaksanaan ibadah haji, puncak dari rukun Islam kelima. Namun, tidak hanya bagi mereka yang menunaikan haji, sepuluh hari awal bulan ini juga membuka pintu rahmat dan ampunan bagi seluruh umat Islam melalui berbagai amalan yang disyariatkan.

Signifikansi sepuluh hari pertama Zulhijah ditegaskan dalam berbagai nas, baik Al-Qur'an maupun Sunah Rasulullah SAW. Banyak ulama tafsir yang menghubungkan sumpah Allah SWT dalam Surah Al-Fajr dengan hari-hari mulia ini. Rasulullah SAW juga secara eksplisit menyatakan bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah SWT selain pada sepuluh hari ini. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif mengenai keutamaan dan amalan-amalan yang dianjurkan pada periode ini menjadi sangat penting bagi setiap Muslim yang ingin meningkatkan kualitas spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Makalah ini akan mengulas secara rinci mengenai keutamaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah berdasarkan perspektif Al-Qur'an dan Hadis, serta pandangan para ulama sebagaimana dipaparkan oleh K.H. Yakhsyallah Mansur, MA. Selain itu, akan dibahas pula berbagai amalan spesifik yang sangat dianjurkan untuk dilakukan selama periode tersebut, lengkap dengan dalil dan penjelasan praktisnya.


PEMBAHASAN

A. Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Zulhijah

Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah didasarkan pada beberapa dalil utama dari Al-Qur'an dan Hadis Nabi Muhammad SAW, serta diperkuat oleh pandangan para ulama salaf.

Dasar dari Al-Qur'an

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fajr ayat 1-3: "Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil.". Mayoritas ahli tafsir (jumhur mufasirin) berpendapat bahwa frasa "malam yang sepuluh" (وَلَيَالٍ عَشْرٍ) merujuk pada sepuluh malam atau sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Ibnu Katsir, seorang mufasir terkemuka, cenderung pada pendapat bahwa yang dimaksud "fajar" adalah fajar hari pertama Zulhijah, dan "malam yang sepuluh" adalah sepuluh hari awal Zulhijah. Sumpah Allah SWT atas sesuatu menunjukkan betapa agung dan pentingnya hal tersebut.

Dasar dari Hadis Nabi Muhammad SAW

Keutamaan periode ini ditegaskan secara lugas dalam beberapa hadis. Di antaranya, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada waktu itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Zulhijah)." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?" Beliau menjawab, "Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seorang lelaki yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan sesuatu apapun.".

Dalam riwayat lain dari Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal yang lebih dicintai oleh-Nya untuk dilakukan di dalamnya daripada sepuluh hari (pertama Zulhijah) ini. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut tahlil (ucapan Laa ilaha illallah), takbir (ucapan Allahu Akbar), dan tahmid (ucapan Alhamdulillah).".

Pandangan Ulama

Para ulama sepakat bahwa sepuluh hari pertama Zulhijah adalah hari-hari yang sangat utama. Mujahid, seorang ulama dari generasi tabiin, menyatakan bahwa amalan yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah akan dilipatgandakan pahalanya. Bahkan, sebagian ulama menyebutkan bahwa nilai amalan pada setiap hari di awal Zulhijah setara dengan amalan satu tahun, dan ada pula yang menyatakan setara dengan seribu hari. Khusus untuk amalan pada hari Arafah, nilainya disebut setara dengan sepuluh ribu hari, meskipun riwayat mengenai pelipatgandaan spesifik ini ada yang berstatus lemah, namun dikuatkan oleh riwayat-riwayat sahih mengenai keutamaan umum hari-hari tersebut.

B. Amalan-Amalan Utama di Sepuluh Hari Pertama Bulan Zulhijah

Berdasarkan keutamaan yang telah dipaparkan, terdapat berbagai amalan yang sangat dianjurkan untuk diperbanyak selama sepuluh hari pertama bulan Zulhijah:

1. Melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah

Amalan paling utama yang terkait dengan periode ini adalah ibadah haji, yang puncaknya dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah (wukuf di Arafah) dan 10 Zulhijah (lempar jumrah Aqabah, tahalul, dan penyembelihan hewan kurban). Umrah juga dapat dilaksanakan, meskipun haji memiliki kekhususan waktu pada bulan ini. Keutamaan haji mabrur sangat besar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Umrah ke umrah adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga." (Muttafaq 'Alaih). Hasan Al-Bashri mendefinisikan haji mabrur sebagai haji yang menjadikan pelakunya lebih zuhud dan cinta terhadap akhirat.

2. Berpuasa

Berpuasa selama sembilan hari pertama bulan Zulhijah (tanggal 1 hingga 9) adalah amalan yang sangat dianjurkan. Hal ini didasarkan pada riwayat dari sebagian istri Nabi SAW bahwa beliau biasa berpuasa sembilan hari di awal Zulhijah (HR. Abu Daud, disahihkan oleh Al-Albani). Sahabat Abdullah bin Umar juga diketahui mempraktikkan puasa ini.

Puasa yang paling ditekankan adalah puasa pada hari Arafah (9 Zulhijah) bagi mereka yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Keutamaannya adalah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang (HR. Muslim). Bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah, justru dilarang berpuasa agar memiliki kekuatan untuk beribadah (HR. Ahmad).

Adapun puasa Tarwiyah (8 Zulhijah), terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai kesunahannya secara spesifik karena dalilnya tidak sekuat puasa Arafah. Namun, jika seseorang berpuasa sejak tanggal 1 Zulhijah, maka puasa Tarwiyah secara otomatis termasuk di dalamnya. Puasa tidak dilakukan pada tanggal 10 Zulhijah karena merupakan hari raya Iduladha, di mana umat Islam diharamkan berpuasa.

3. Berkurban

Menyembelih hewan kurban pada hari raya Iduladha (10 Zulhijah) dan hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah) adalah syiar Islam yang agung. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kautsar ayat 2: "Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.". Iduladha juga dikenal sebagai Yaumun Nahr (hari penyembelihan).

Hukum berkurban diperselisihkan ulama; sebagian berpendapat wajib bagi yang mampu (berdasarkan perintah yang bergandengan dengan salat dan hadis ancaman bagi yang mampu tapi tidak berkurban, HR. Ahmad), sementara mayoritas ulama berpendapat sunah muakkadah (sunah yang sangat ditekankan), berdasarkan hadis lain (HR. Tirmidzi). Kurban merupakan salah satu amalan yang paling utama di bulan Zulhijah, di mana tidak ada amalan pada hari raya kurban yang lebih utama daripada mengalirkan darah hewan kurban.

4. Tidak Memotong Kuku dan Rambut (Bagi yang Akan Berkurban)

Bagi orang yang berniat untuk berkurban, disunahkan untuk tidak memotong kuku dan rambutnya sejak terlihatnya hilal Zulhijah hingga hewan kurbannya disembelih. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila kalian telah melihat hilal Zulhijah dan salah seorang di antara kalian hendak berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya." (HR. Muslim). Ulama Syafi'iyah menjelaskan hikmahnya adalah agar seluruh bagian tubuh orang yang berkurban dibebaskan dari api neraka. Larangan ini berlaku khusus bagi shahibul qurban (orang yang berkurban).

5. Memperbanyak Amal Saleh Secara Umum

Selain amalan-amalan spesifik di atas, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak segala bentuk amal saleh selama sepuluh hari pertama Zulhijah. Ini mencakup tilawah Al-Qur'an, bersedekah, beristigfar, berdoa, menjalin silaturahmi, berbakti kepada orang tua, dan perbuatan baik lainnya. Keumuman hadis mengenai "amal saleh" menunjukkan cakupan yang luas.

6. Memperbanyak Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Ahmad, memperbanyak zikir berupa takbir (Allahu Akbar), tahmid (Alhamdulillah), dan tahlil (Laa ilaha illallah) sangat dianjurkan. Zikir ini dapat dilakukan dalam dua bentuk:

Takbir Mutlak: Dilakukan kapan saja dan di mana saja (di rumah, pasar, jalan, masjid, dll.) sejak tanggal 1 Zulhijah hingga akhir hari Tasyrik.

Takbir Muqayyad: Dilakukan setelah pelaksanaan salat fardu berjamaah, dengan mengeraskan suara. Waktunya dimulai sejak setelah salat Subuh hari Arafah (9 Zulhijah) bagi selain jamaah haji, dan setelah salat Zuhur hari raya Iduladha bagi jamaah haji, hingga setelah salat Asar pada hari terakhir Tasyrik (13 Zulhijah). Durasi takbir pada Iduladha lebih panjang (empat hari) dibandingkan Idulfitri.

7. Melaksanakan Salat Idul Adha

Menunaikan salat Iduladha pada pagi hari tanggal 10 Zulhijah secara berjamaah adalah syiar Islam yang penting. Rasulullah SAW senantiasa melaksanakannya. Terdapat pembahasan di kalangan ulama mengenai status salat Jumat jika hari raya Id jatuh pada hari Jumat. Sebagian riwayat (HR. Ibnu Khuzaimah, dari Zaid bin Arqam) menunjukkan bahwa Nabi SAW memberikan keringanan (rukhsah) untuk tidak melaksanakan salat Jumat bagi mereka yang telah melaksanakan salat Id, namun beliau sendiri tetap melaksanakannya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa keringanan ini berlaku bagi penduduk di luar kota tempat imam melaksanakan salat Jumat, atau bagi yang memiliki kesulitan. Namun, yang lebih utama adalah tetap melaksanakan salat Jumat, terutama bagi imam dan mereka yang tidak memiliki uzur.


KESIMPULAN

Sepuluh hari pertama bulan Zulhijah merupakan periode waktu yang memiliki keutamaan agung dalam Islam, yang ditegaskan oleh Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah SAW. Amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini memiliki nilai pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT, bahkan melebihi jihad fi sabilillah dalam kondisi tertentu.

Umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan periode emas ini dengan berbagai bentuk ibadah, di antaranya adalah menunaikan ibadah haji dan umrah bagi yang mampu, berpuasa sunah khususnya puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah, menyembelih hewan kurban, memperbanyak zikir (takbir, tahmid, tahlil), tidak memotong kuku dan rambut bagi yang berniat kurban, melaksanakan salat Iduladha, serta memperbanyak amal kebajikan lainnya secara umum.

Pemahaman yang benar mengenai keutamaan dan amalan-amalan di sepuluh hari pertama Zulhijah diharapkan dapat memotivasi setiap Muslim untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, meraih ampunan, dan meningkatkan derajat ketakwaan kepada Allah SWT.


---
Sumber utama makalah ini adalah ceramah K.H. Yakhsyallah Mansur, MA, berjudul "KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA DI BULAN DZULHIJJAH".
Dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis yang dikutip merujuk pada sumber-sumber primer Islam yang disebutkan dalam ceramah tersebut, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Musnad Ahmad, Sunan Tirmidzi, dan tafsir-tafsir Al-Qur'an.


Post a Comment

أحدث أقدم