Ringkasan Materi KBC - Filosofi Kurikulum Berbasis Cinta - Bagian 2 

1. Hakikat Hubungan Manusia dan Alam

Persahabatan, Bukan Eksploitasi: Hubungan manusia dengan alam di masa lalu bukanlah hubungan subjek-objek, melainkan sebuah "intimasi" atau keintiman batin yang mendalam.

Bahasa Keheningan: Leluhur kita berkomunikasi dengan alam melalui insting dan ritual sunyi (seperti mencium tanah atau benih) untuk memahami kesesuaian alam tanpa memerlukan laboratorium canggih.

Kearifan Lokal: Contoh masyarakat Sulawesi Selatan dan Mandar yang menjalin "persahabatan tradisional" dengan laut dan darat sebagai bentuk rasa, bukan sekadar logika atau praktik syirik/bidah.

2. Perspektif Agama dan Teladan Nabi

Benda Tidak Mati: Dalam pandangan Islam (merujuk Al-Isra), tidak ada benda yang benar-benar mati karena segala sesuatu bertasbih kepada Tuhan dengan caranya masing-masing.

Keteladanan Rasulullah: Nabi Muhammad SAW mencontohkan cinta kepada benda dengan memberi nama pada peralatan pribadinya dan berkomunikasi dengan alam, seperti kisah mimbar yang menangis karena merindukan zikir.

Etika Perang dan Lingkungan: Larangan merusak tanaman atau rumah ibadah dalam kondisi perang menunjukkan betapa Islam menjunjung tinggi kelestarian lingkungan.

3. Konsep Ekoteologi: Segitiga Manusia, Alam, dan Tuhan

Manusia, Alam, dan Tuhan: Kurikulum ini menekankan jalinan cinta segitiga (Man, Nature, and God). Belajar sains (matematika, kimia, biologi) harus menyertakan pesan bahwa ada pencipta di balik ilmu tersebut.

Alam sebagai Tajali (Manifestasi) Tuhan: Karena alam berasal dari Tuhan yang Maha Suci, maka alam pun bersifat sakral dan harus dihormati sebagaimana kita menghormati diri sendiri (Tat Twam Asi).

4. Kritik terhadap Antroposentrisme Modern

Dominasi Logika: Masyarakat modern cenderung kehilangan rasa persahabatan dengan alam karena terlalu mengandalkan teknologi dan kacamata antroposentrisme (menganggap manusia adalah pusat segalanya).

Dampak Kerusakan: Banjir, longsor, dan krisis iklim adalah cara alam "berteriak" karena manusia telah melanggar perjanjian suci dan kehilangan kesadaran spiritual terhadap bumi.

Pendidikan yang Salah: Kritik terhadap sistem pendidikan yang hanya mencetak "tuan di bumi" untuk mencari uang, bukan menjadi "penjaga" yang memelihara ekosistem.

5. Visi Kurikulum Cinta Kementerian Agama

Inti Agama adalah Cinta: Semua agama pada dasarnya mengajarkan cinta. Mengajarkan kebencian terhadap agama lain dalam pendidikan agama adalah tindakan yang bertolak belakang dengan substansi agama itu sendiri.

Manusia sebagai Makhluk Eksistensialis: Manusia memiliki posisi unik sebagai khalifah yang martabatnya bisa naik melebihi malaikat atau turun lebih rendah dari binatang, tergantung pada penggunaan hati dan rasanya.

Misi Internasional: Kementerian Agama berobsesi menciptakan konsep kurikulum yang menggunakan bahasa agama untuk menyelamatkan lingkungan, yang diharapkan bisa menjadi inspirasi dunia internasional dalam mewujudkan kerukunan dan kelestarian alam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama